Tradisi pendidikan kita sejauh ini cenderung menbentuk anggapan umum bahwa : anak-anak ada yang cerdas sejak lahir dan ada yang bodoh.
Anggapan yang didasarkan pada hasil pengukuran tingkat kecerdasan rata-rata ini bisa menyesatkan, mengurangi rasa percaya diri pada anak didik akan kemampuan berpikirnya. Padahal kemampuan berpikir setiap orang itu bisa senantiasa ditingkatkan menjadi semacam ketrampilan, tak ubahnya dengan mengendarai mobil.Tak peduli berapa “IQ” atau kecanggihan rekayasa tehniknya, mobil bisa dikendarai dengan kemampuan mengemudi yang sembrono atau trampil.
Untuk bisa trampil “mengemudikan otak” kita, ada sejumlah tehnik atau alat berpikir yang bisa dipelajari dan dilatih. Semakin sering anak anda mempraktekkannya, akan kian trampil mereka berpikir. Dan berhubung jenis ketrampilan tersebut jarang diajarkan di sekolah, maka selaku orang tua anda perlu melengkapi pendidikan formal anak dengan latihan-latihan tehnik berpikir (seperti yang antara lain dirancang oleh Dr.Edward de Bono).
Berikut Latihan-latihan Tersebut :
PMI (Plus Minus Interesting)
Bertujuan memperluas persepsi atau wawasan pikiran anak dengan mengarahkan perhatian pada segi-segi : baik, buruk dan menarik dari ide-ide atau situasi yang dihadapi. Latihan teknik ini menjadi penting mengingat kebiasaan banyak orang (orang dewasa tidak terkecuali) untuk memandang berbagai hal hanya terbatas dari satu segi.
Cuma yang positif atau yang baik-baiknya saja, yang negatif atau buruknya semata ; dan nyaris tak pernah mencoba menemukan segi-segi menarik atau unik yang ada padanya. Tanpa PMI kebanyakan penilaian didasarkan bukan pada bobot gagasan itu sendiri, tapi pada emosi anda pada saat yang bersangkutan. Dengan PMI anda memutuskan apakah anda suka atau tidak pada gagasan tertentu sesudah anda menjelajahinya bukan sebelumnya.
CAF (Considering All Factors)
Serupa tapi tidak sama dengan PMI, karena yang dipertimbangkan disini adalah faktor yang mempengaruhi suatu situasi; bukan hanya yang tampaknya penting bagi kita semata.
OPV (Other People Viewpoints)
Berpindah dari sudut pandang kita sendiri kepada sudut padang semua orang yang terlibat dalam suatu situasi. Tehnik ini bisa mencegah atau mengurangi kemungkinan timbulnya konflik, dan meningkatkan daya tepa-selira atau toleransi terhadap kepentingan orang lain. Anak akan menyadari betapa pandangan orang lain pada situasi yang sama bisa sangat berbeda dengan dirinya.
ADI (Agreement, Disagrement, Irrelevance)
Belajar membuat semacam peta situasi guna menambah persetujuan dan mengurangi hal-hal yang tidak disetujui bersama. Latihan ini menjadi penting berhubung kebiasaan banyak orang untuk hanya melihat perbedaan-perbedaan yang ada dengan pihak lain.
PO (Possibility, Suppose, Hypothesis)
Yang menunjukan bahwa kita tidak sedang menilai sesuatu (benar atau salah) ide, melainkan hendak memperlakukan secara kreatif, untuk mengetahui kemana ide tersebut membawa kita (movement). Pemakaian kata PO di depan suatu pernyataan, memungkikan kita menerima konsep ‘kemustahilan’ antara (intermediate impossible), sehingga kreativitas memperoleh ‘hak hidup’ dan ide-ide baru bisa bermunculan. Contoh : roda segi empat.
Concept Challenge
Menantang atau mempertanyakan ulang kesahihan gagasan maupun konsep-konsep serta penerapannya yang telah lama hadir di sekitar kita bukan untuk membuktikan ia benar atau salah, melainkan sekedar mempersoalkan keunikannya : “Mengapa harus dilakukan secara demikian ? Apa cuma ini satu-satunya cara yang mungkin ?
Contoh konsep-konsep yang ‘perlu’ ditantan : orang tua pasti lebih tahu dari anak; pendidikan itu harus melalui sekolah; kelas itu harus dibentuk ‘kotak tertutup’ menjadi sebuah cerita. Cerita termaksud harus lengkap alurnya, semakin banyak ‘kekosongan kata’ yang perlu diisi, kian berkurang nilai keberhasilannya. Dan sebaiknya semakin banyak judul-judul yang terpakai serta panjang cerita yang tersusun, kian berhasil permainan ini anak anda akan semakin mampu melihat alternatif makna dari kata-kata dalam judul berita koran sehari-hari.
Foto dan Cerita
Masih sehubungan dengan permainan koran, guntinglah foto-foto sari satu atau lebih edisi koran, dan tempelkanlah judul-judul berita yang tepat dengannya (kecuali judul foto aslinya). Kombinasi foto dan judul rekaan yang dihasilkan bisa serius maupun lucu. Apa yang dilatih disini adalah perluasan persepsi, daya cipta dan kemampuan anak anda menemukan alternatif.
Akan terlampau banyak kiranya apabila seluruh alat berpikir (dalam program Cort ada 60 alat ) dan permainan anjuran Edward de Bono harus dituangkan satu persatu di sini. Cuplikan di atas hanya sekedar contoh betapa proses berpikir itu bisa dilatih, terlepas dari isi pikiran kita. Berdasarkan pengalaman anda menerapkannya, siapa tahu anda akan mampu meracang alat maupun permainan “latihan berpikir” sendiri kelak ?