HIDUP INDAH DENGAN KOREKSI DIRI

Arsip untuk Agustus, 2009

Kiat Melatih Anak Terampil Berpikir ala Edward de Bono.

Posted by agusdjunaidy pada 28 Agustus 2009

Tradisi pendidikan kita sejauh ini cenderung menbentuk anggapan umum bahwa : anak-anak ada yang cerdas sejak lahir dan ada yang bodoh.

Anggapan yang didasarkan pada hasil pengukuran tingkat kecerdasan rata-rata ini bisa menyesatkan, mengurangi rasa percaya diri pada anak didik akan kemampuan berpikirnya. Padahal kemampuan berpikir setiap orang itu bisa senantiasa ditingkatkan menjadi semacam ketrampilan, tak ubahnya dengan mengendarai mobil.Tak peduli berapa “IQ” atau kecanggihan rekayasa tehniknya, mobil bisa dikendarai dengan kemampuan mengemudi yang sembrono atau trampil.

Untuk bisa trampil “mengemudikan otak” kita, ada sejumlah tehnik atau alat berpikir yang bisa dipelajari dan dilatih. Semakin sering anak anda mempraktekkannya, akan kian trampil mereka berpikir. Dan berhubung jenis ketrampilan tersebut jarang diajarkan di sekolah, maka selaku orang tua anda perlu melengkapi pendidikan formal anak dengan latihan-latihan tehnik berpikir (seperti yang antara lain dirancang oleh Dr.Edward de Bono).

Berikut Latihan-latihan Tersebut :

PMI (Plus Minus Interesting)
Bertujuan memperluas persepsi atau wawasan pikiran anak dengan mengarahkan perhatian pada segi-segi : baik, buruk dan menarik dari ide-ide atau situasi yang dihadapi. Latihan teknik ini menjadi penting mengingat kebiasaan banyak orang (orang dewasa tidak terkecuali) untuk memandang berbagai hal hanya terbatas dari satu segi.

Cuma yang positif atau yang baik-baiknya saja, yang negatif atau buruknya semata ; dan nyaris tak pernah mencoba menemukan segi-segi menarik atau unik yang ada padanya. Tanpa PMI kebanyakan penilaian didasarkan bukan pada bobot gagasan itu sendiri, tapi pada emosi anda pada saat yang bersangkutan. Dengan PMI anda memutuskan apakah anda suka atau tidak pada gagasan tertentu sesudah anda menjelajahinya bukan sebelumnya.

CAF (Considering All Factors)
Serupa tapi tidak sama dengan PMI, karena yang dipertimbangkan disini adalah faktor yang mempengaruhi suatu situasi; bukan hanya yang tampaknya penting bagi kita semata.

OPV (Other People Viewpoints)
Berpindah dari sudut pandang kita sendiri kepada sudut padang semua orang yang terlibat dalam suatu situasi. Tehnik ini bisa mencegah atau mengurangi kemungkinan timbulnya konflik, dan meningkatkan daya tepa-selira atau toleransi terhadap kepentingan orang lain. Anak akan menyadari betapa pandangan orang lain pada situasi yang sama bisa sangat berbeda dengan dirinya.

ADI (Agreement, Disagrement, Irrelevance)
Belajar membuat semacam peta situasi guna menambah persetujuan dan mengurangi hal-hal yang tidak disetujui bersama. Latihan ini menjadi penting berhubung kebiasaan banyak orang untuk hanya melihat perbedaan-perbedaan yang ada dengan pihak lain.

PO (Possibility, Suppose, Hypothesis)
Yang menunjukan bahwa kita tidak sedang menilai sesuatu (benar atau salah) ide, melainkan hendak memperlakukan secara kreatif, untuk mengetahui kemana ide tersebut membawa kita (movement). Pemakaian kata PO di depan suatu pernyataan, memungkikan kita menerima konsep ‘kemustahilan’ antara (intermediate impossible), sehingga kreativitas memperoleh ‘hak hidup’ dan ide-ide baru bisa bermunculan. Contoh : roda segi empat.

Concept Challenge
Menantang atau mempertanyakan ulang kesahihan gagasan maupun konsep-konsep serta penerapannya yang telah lama hadir di sekitar kita bukan untuk membuktikan ia benar atau salah, melainkan sekedar mempersoalkan keunikannya : “Mengapa harus dilakukan secara demikian ? Apa cuma ini satu-satunya cara yang mungkin ?
Contoh konsep-konsep yang ‘perlu’ ditantan : orang tua pasti lebih tahu dari anak; pendidikan itu harus melalui sekolah; kelas itu harus dibentuk ‘kotak tertutup’ menjadi sebuah cerita. Cerita termaksud harus lengkap alurnya, semakin banyak ‘kekosongan kata’ yang perlu diisi, kian berkurang nilai keberhasilannya. Dan sebaiknya semakin banyak judul-judul yang terpakai serta panjang cerita yang tersusun, kian berhasil permainan ini anak anda akan semakin mampu melihat alternatif makna dari kata-kata dalam judul berita koran sehari-hari.

Foto dan Cerita

Masih sehubungan dengan permainan koran, guntinglah foto-foto sari satu atau lebih edisi koran, dan tempelkanlah judul-judul berita yang tepat dengannya (kecuali judul foto aslinya). Kombinasi foto dan judul rekaan yang dihasilkan bisa serius maupun lucu. Apa yang dilatih disini adalah perluasan persepsi, daya cipta dan kemampuan anak anda menemukan alternatif.

Akan terlampau banyak kiranya apabila seluruh alat berpikir (dalam program Cort ada 60 alat ) dan permainan anjuran Edward de Bono harus dituangkan satu persatu di sini. Cuplikan di atas hanya sekedar contoh betapa proses berpikir itu bisa dilatih, terlepas dari isi pikiran kita. Berdasarkan pengalaman anda menerapkannya, siapa tahu anda akan mampu meracang alat maupun permainan “latihan berpikir” sendiri kelak ?

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »

IMAM AS-SUYUTHI

Posted by agusdjunaidy pada 28 Agustus 2009

Beliau –rahimahullah- bernama Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Saabiquddien bin al-Fakhr Utsman bin Nashiruddien Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddien Abi ash-Shalaah Ayub ibn Nashiruddien Muhammad bin asy-Syaich Hammamuddien al-Hamman al-Khadlari al-Asyuuthi. Lahir ba’da Maghrib, hari Ahad malam, bulan Rajab tahun 849 Hijriyah, yakni enam tahun sebelum bapaknya wafat.
Asal Usul Beliau –rahimahullah-
Jalaluddien as-Suyuthi berasal dari lingkungan cendekiawan sejak kecilnya. Bapaknya berusaha mengarahkannya ke arah kelurusan dan keshalihan. Adalah beliau hafal al-Qur’an di usianya yang sangat dini dan selalu diikutkan bapaknya di berbagai majlis ilmu dan berbagai majlis qadhinya.
Dan bapaknya telah memintakan kepada Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani supaya mendo’akannya diberi berkah dan taufiq. Dan adalah bapaknya melihat dalam diri anaknya seperti yang didapati dalam diri Ibnu Hajar, hingga ketika beliau minum, sebagian diberikan kepada anaknya dan mendo’akannya agar ia seperti Ibnu Hajar, menjadi ulama yang trampil dan tokoh penghafal (hadits). Bapaknya wafat saat ia (imam Suyuthi) baru berumur lima tahun tujuh bulan. Tetapi Allah telah memeliharanya dengan taufiq dari-Nya dan mengasuhnya dengan asuhan-Nya. Ini terbukti dengan telah ditakdirkan Allah Ta’ala untuknya al-’Allamah Kamaaluddien bin Humam al-Hanafi pengarang Fathul Qadir untuk menjadi guru asuhnya. Hingga hafal al-Qur’an dalam umur delapan tahun, kemudian menghafal kitab al-’Umdah lalu Minhajul Fiqhi dan Ushul, serta Alfiyah Ibnu Malik. Dan mulai menyibukkan diri dengan (menggeluti) ilmu pada tahun 864 H, yakni ketika berumur 15 tahun.
Menimba ilmu Fiqih dari Syaikh Siraajuddien al-Balqini. Bahkan mulazamah kepada beliau hingga wafatnya. Kemudian mulazamah kepada anak beliau, dan menyimak banyak pelajaran darinya seperti al-Haawi ash-Shaghir, al-Minhaaj, syarah al-Minhaaj dan ar-Raudhah. Belajar Faraidl dari syaikh Sihaabuddien Asy-Syaarmasaahi, dan mulazamah kepada asy-Syari al-Manaawi Abaaz Kuriya Yahya bin Muhammad, kakak dari Abdurrauf pensyarah al-Jami’ ash-Shaghir. Kemudian menimba ilmu bahasa Arab dan ilmu Hadits kepada Taqiyuddien asy-Syamini al-Hanafi (872 H). Lalu mulazamah kepada syaikh Muhyiddien Muhammad bin Sulaiman ar-Ruumi al-Hanafi selama 14 tahun. Dari beliau ia menimba ilmu tafsir, ilmu Ushul, ilmu bahasa Arab dan ilmu Ma’ani. Juga berguru kepada Jalaaluddien al-Mahilli (864 H) dan ‘Izzul Kinaani Ahmad bin Ibrahim al-Hanbali. Dan membaca shahih Muslim, asy-Syifa, Alfiyah Ibnu malik dan penjelasaannya pada Syamsu as-Sairaami.
Imam Suyuthi tidak mau meninggalkan satu cabang ilmu pun kecuali ia berusaha untuk mempelajarinya, seperti ilmu hitung dan ilmu faraidl dari Majid bin as-Sibaa’ dan Abudl Aziz al-Waqaai, serta ilmu kedokteran kepada Muhammad bin Ibrahim ad-Diwwani ar-Ruumi. Hal ini sesuai dan didukung oleh keadaan waktu itu di mana dia dapat menimba ilmu dari banyak syaikh. Ia tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, baik ilmu bahasa maupun ilmu dien, demikian pula ia tidak merasa cukup dengan para ulama yang telah ia temui.
Bahkan ia bepergian jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat hadits, hingga ke negeri Maghribi (Tanjung Harapan, sebelah ujuh barat pulau Afrika), ke Yaman, India, Syam Mahallah (di Mesir Barat), Diimath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir), dan Fayyum (Mesir) serta negeri-negeri Islam lainnya. Telah menunaikan ibadah Hajji dan telah minum air Zam-zam dengan harapan supaya dapat seperti Syaich al-Balqini dalam menguasi ilmu Fiqih serta dapat seperti Ibnu Hajar dalam menguasai ilmu Hadits.
Demikianlah imam yang mulia ini, mengadakan perjalanan yang tidak tanggung-tanggung dengan segala kesusahannya hanya untuk dapat menimba ilmu. Banyak sekali gurunya. Bahkan disebutkan oleh syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab Thabaqat bahwa gurunya lebih dari 600-an orang.
Sesuai dengan banyaknya syaikh dan jauhnya perjalanannya dalam menimba ilmu, hal itu didukung pula oleh kemampuannya untuk semaksimal mungkin dalam memanfaatkan perpustakaan Madrasah Mahmudiyah. Berkata al-Maqrizi, bahwa di dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab Islam, dan madrasah ini merupakan sebaik-baik madrasah yang ada, yang dinisbatkan kepada Mahmud bin al-Astadaar, yang berdirinya pada tahun 897 H. Dan kitab-kitab yang ada tersebut merupakan kitab yang paling lengkap dari yang ada sekarang di Qahirah (Cairo), yang merupakan koleksi dari Burhan Ibn Jama’ah dan kemudian dibeli oleh Mahmud al-Astadaar dengan uang warisannya setelah ia wafat dan kemudian ia waqafkan.

Hingga matanglah kepribadian Suyuthi, dan sempurnalah pembentukan ilmunya pada taraf syarat mampu untuk berijtihad. Beliau seorang yang mudah mengerti, kuat hafalannya, dianugerahi Allah dengan otak yang cerdas, disamping itu beliau adalah seorang yang ‘abid (ahli ibadah), zuhud, tawadlu’. Tidak mau menerima hadiah raja. Pernah ia diberi hadiah raja Ghuuri seorang budak perempuan dan uang banyak sebesar seribu dinar. Maka dikembalikannya uang itu sedangkan budak perempuan itu dimerdekakannya dan menjadikannya sebagai pelayan di hujrah Nabawi. Lalu ia berkata kepada sang penguasa itu, “Jangan berusaha memalingkan hanya dengan memberi hadiah semacam itu karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.”
Oleh karena itu beliau rahimahullah dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam menegakkan hukum-hukum syari’at dan mengamalkannya tanpa memihak kepada seorang pun. Tidak takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Ia telah diminta untuk memberikan fatwa serta urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, maka beliau tetap berusaha untuk adil dan menerapkan hukum-hukum dien tanpa memperdulikan kemarahan Umara’ maupun penguasa. Bahkan jika ia melihat ada Qadhi (hakim) yang menta’wilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa, bertujuan menjilat mereka maka beliau menentangnya dan menyatakan pengingkarannya serta cuci tangan darinya. Menerangkan kesalahannya, dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam kitab “al-Istinshaar bil Wahid al-Qahhar.” Beliau terlalu disibukkan dengan memberi pelajaran dan berfatwa sampai umur 40 tahun, kemudian beliau lebih mengkhususkan untuk beribadah dan mengarang kitab. Dan karangan imam Suyuthi rahimahullah lebih dari 500 buah karangan. Berkata imam Suyuthi, “Kalau seandainya aku mau maka aku mampu untuk menyusun kitab yang membahas setiap masalah dengan segala teori dan dalil-dalil yang kami nukil, qiyasnya, keterangannya, bantahan-bantahannya, jawaban-jawabannya, muwazanahnya antara perselisihan berbagai madzhab tentang masalah itu, dengan fadhilah Allah, tidak dengan daya dan kemampuanku. Karena sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali dari Allah.”
Kitab-Kitab Karangan Imam Suyuthi
Adapun kitab-kitab yang disusun oleh imam Suyuthi rahimahullah antara lain sebagai berikut:
1. Al-Itqaan fi ‘Uluumil Qur’an
2. Ad-Durrul Mantsuur fit Tafsiril Ma’tsuur
3. Tarjumaan al-Qur’an fit Tafsir
4. Israaru at-Tanziil atau dinamakan pula dengan Qathful Azhaar fi Kasyfil Asraar
5. Lubaab an-Nuqul fi Asbaabi an-Nuzuul
6. Mifhamaat al-Aqraan fi Mubhamaat al-Qur’an
7. Al-Muhadzdzab fiima waqa’a fil Qur’an minal Mu’arrab
8. Al-Ikllil fi istimbaath at-Tanziil
9. Takmilatu Tafsiir asy-Sayich Jalaaluddien al-Mahilli
10. At-Tahiir fi ‘Uluumi Tafsir
11. Haasyiyah ‘ala Tafsiri al-Baidlawi
12. Tanaasuq ad-Duraru fi Tanaasub as-Suwari
13. Maraashid al-Mathaali fi Tanaasub al-Maqaathi’ wal Mathaali’
14. Majma’u al-Bahrain wa Mathaali’u al-Badrain fi at-Tafsir.
15. Mafaatihu al Ghaib fi at-Tafsiir
16. Al-Azhaar al-Faaihah ‘alal Fatihah
17. Syarh al-Isti’adzah wal Kasmalah
18. Al-Kalaam ‘ala Awalil Fathi
19. Syarh asy-Syathibiyah
20. Al-Alfiyah fil Qara’at al ‘asyri
21. Khimaayal az-Zuhri fi Fadla’il as-Suwari
22. Fathul Jalil li ‘Abdi Adz Dzalil fil Anwa’il Badi’ah al- Mustakhrijah min Qaulihi Ta’ala:
Allaahu Waliyyulladziina aamanu
23. al-Qaul al-Fashih Fi Ta’yiini adz-Dzabiih
24. al-Yadul Bustha fi as-Shalaatil Wustha
25. Mu’tarakul Aqraan Fi musykilaatil Qur’an

Semua itu judul-judul buku yang berkenaan dengan Tafsir, adapun yang berkenaan dengan ilmu hadits, antara lain adalah sebagai berikut:
1. ‘Ainul Ishaabah Fi Ma’rifati ash-Shahaabah
2. Durru ash-Shahaabah Fi man Dakhala Mishra Minash Shahaabah
3. Husnul Muhaadlarah
4. Riihu an-Nisriin Fi man ‘Aasya Minash Shahaabah Mi ata Wa ‘isyriin
5. Is’aaful Mubtha’ bi Rijaalil Muwaththa’
6. Kasyfu at-Talbiis ‘an Qalbi Ahli Tadliis 10. Asmaa`ul Mudallisiin
7. Taqriibul Ghariib 11. ar-Raudlul Mukallal Wa Waradul Mu’allal fi al-mushthalah
8. al-Madraj Ila al-Mudraj 12. al-Luma’ Fi Asmaa`i Man Wadla’
9. Tadzkirah al-Mu’tasi Min Hadits Man haddatsa wa nasiy
Dan masih banyak lagi yang lainnya
Imam as-Suyuthi rahimahullah wafat pada hari Jum’at, malam tanggal 19 Jumadal Ula tahun 911 H seperti yang disebutkan oleh Sya’rani dalam kitab Dzail Thabaqat-nya. Sebelumnya beliau menderita sakit selama tujuh hari dan akhirnya wafat dalam umur 61 tahun 10 bulan 18 hari. Dikuburkan di pemakaman Qaushuun atau Qaisun, di luar pintu gerbang Qarafah, atau yang terkenal dengan sebutan Bawwaabah as-Sayyidah ‘Aisyah (Pintu gerbang Sayyidah ‘Aisyah) di Cairo.
Rujukan:
Tadriib ar-Raawi Fi Syarh Taqriib an-Nawawy karya as-Suyuthy, yang ditahqiq oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab Abdullathif, Dar an-Nasyr al-Kutub al-Islamiyyah, Lahore, Pakistan, dan tahqiq DR. Ahmad Umar Hasyim, penerbit Daarul Kitab al-’Araby, Beirut, Lebanon

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.